Selasa, September 28, 2010

Jangan Pernah Menunda Untuk Membantu Orang Lain

Jangan Pernah Menunda Untuk Membantu
Kadang kita menyepelekan perkara-perkara kecil dan sering menunda-untuk melaksanakannya terlebih bila tidak menyangkut diri kita sendiri, penundaan apalagi berkaitan memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan akan merugikan banyak pihak. Keterlambatan satu hari pun akan berakibat fatal, seperti ilustrasi berikut.

Seorang wanita setengah baya bernama Lilis, berjalan gontai pulang kerumah dengan raut muka sedih, ia baru saja mendatangi teman-temannya bermaksud meminjam uang untuk keperluan berobat suaminya yang sakit parah. Semua teman yang dijumpai tidak dapat meminjamkan dengan berbagai sebab, Dini sahabatnya sewaktu SMA berkata, “wah sori ya Lis kalau saat ini aku masih ada keperluan untuk bayar arisan, mungkin minggu depan aku baru bisa bantu", lain lagi dengan Ericka sahabat karibnya sewaktu masih kuliah juga tidak dapat meminjamkan, maaf banget ya Lis, hari ini aku sudah janji dengan bu Endang untuk shopping, minggu depan aja ya saat gajian, aku akan bantu", bahkan Darwis mantan kekasihnya sewaktu kuliah pun tidak dapat membantunya dengan alasan uangnya dipergunakan untuk membayar cicilan motor.

Karena tidak mendapatkan perawatan sebagaimana mestinya, akhirnya suami Lilis meninggal dunia. Satu minggu kemudian Dini, Ericka dan Darwis datang berkunjung dan bermaksud memberikan pinjaman kepada Lilis, akan tetapi dengan wajah sedih Lilis menolaknya dan berkata “maaf teman-temanku, aku tidak dapat lagi menerimanya, sudah terlambat karena suamiku sudah meninggal 5 hari yang lalu”. Dini, Ericka dan Darwis merasa sedih dan sangat menyesal mengapa waktu itu mereka tidak segera membantu, padahal mereka mempunyai kesempatan untuk melakukannya.

Terkadang tanpa kita sadari ketika ada orang datang meminta bantuan, sering kali kita menunda-nunda untuk memberikan bantuan dengan berbagai alasan dan berpikir apakah orang tersebut layak untuk ditolong, bahkan lebih ekstrim lagi bila dalam menolong orang lain kita selalu mengukur untung-ruginya.


Kisah ilustrasi diatas mengajak kita untuk segera memberikan bantuan dan jangan pernah menunda untuk membantu orang lain, jangan sampai kita menyesal dikemudian hari karena sudah terlambat melakukannya, selagi ada kemampuan dan kesempatan berikanlah bantuan kepada orang yang membutuhkan.

Read More......

Sabtu, Agustus 28, 2010

Bagaimana Seharusnya Kita Memperlakukan Orang Miskin

bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang miskin
Mengapa banyak orang yang tidak tergerak hatinya melihat kemiskinan ? berapa banyak berita di koran atau TV yang menayangkan bayi-bayi atau anak anak kecil yang mati karena kekurangan gizi, orang-orang miskin yang rela antri berdesak-desakan sampai berjam-jam dan tidak jarang ada jatuh korban bahkan sampai meninggal, hanya untuk menerima pembagian uang atau sembako ? merasa bersalahkah kita atau tersentuhkah hati kita dengan semua kejadian itu …?

Siapakah yang harus bertanggung-jawab atas kemiskinan itu ?, mungkin banyak diantara kita yang akan menjawab bahwa Pemerintahlah yang seharusnya bertanggung jawab bukankah fakir miskin dan gelandangan dipelihara oleh Negara ?

UUD memang menyatakan bahwa gelandangan dan fakir miskin dipelihara oleh Negara namun mengapa “mereka” masih banyak dijumpai di jalanan terlebih menjelang hari raya Iedul fitri ?

Dalam kehidupan nyata sehari-hari tanpa disadari betapa kita sering curiga kepada orang miskin dan menganggap mereka sebagai orang tak berguna dan harus diwaspadai keberadaanya. Jika ada pengemis atau pengamen datang kerumah, kerap kali kita menolak mereka dengan berkata : "maaf lain kali saja atau tadi sudah ada yang datang, atau bahkan tidak sedikit yang langsung menutup pintu".

Semoga saja pada bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah ini kita dapat belajar untuk bersikap adil kepada mereka yang kurang beruntung secara materi dengan memperlakukan dan melihat mereka bukan lagi sebagai sumber masalah atau sampah masyarat. Kita belajar untuk “pergi keluar” dari lingkungan kita dan berinisiatif untuk menyapa orang-orang yang mungkin selama ini kita hindari dan dianggap sebagai sampah masyarakat.

Membantu orang miskin bukan sekedar memberi uang atau membagi-bagi makanan, kita bisa saja langsung memberikan uang ataupun makanan tanpa perduli sedikitpun kepada mereka hanya karena kita berkelebihan ! tetapi yang terutama adalah kita memperlakukan dan melihat mereka sebagai manusia dan pribadi yang layak mendapatkan perlakuan sebagaimana mestinya.

Read More......

Kamis, Juli 29, 2010

Meminta Maaf Dan Memaafkan Ternyata Sulit

meminta maaf dan memaafkan ternyata sulit, maaf, inspirasi, motivasi
Meminta maaf dan memaafkan ternyata sulit, tidak semudah mengucapkannya. Ada banyak orang yang masih bermasalah dengan kata maaf. Gengsi, jaga image, malu bahkan sampai ada yang merasa tidak perlu meminta maaf karena merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi.
Hidup dalam dunia yang kompleks dengan berbagai aktivitas dan kepentingan tentu saja menjadi pemandangan yang biasa bila timbul benturan atau perselihan.

Kemacetan lalu lintas, kesalah-pahaman, merasa diperlakukan tidak adil atau kekesalan lainnya dalam kehidupan sehari-sehari dapat menyebabkan orang menjadi gampang marah.

Sadar atau tidak, kerapkali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal yang baik dalam hidup ini, jalanan yang selalu lancar, karier yang mulus karena merasa telah bekerja keras, kesuksesan. Bahkan berharap agar para sahabat/teman memperlakukan kita sesuai dengan keinginan kita. Ketika yang diterima justru sebaliknya, maka timbul kekecewaan dan rasa marah karena merasa diperlakukan tidak adil.

Dalam realita kehidupan adalah hal yang wajar bila sesekali kita merasa marah atau menghadapi kemarahan orang lain, yang terpenting adalah bagaimana kita dapat mengontrol atau mengendalikan rasa marah tersebut agar tidak menimbulkan hal-hal yang akan disesali dikemudian hari. Seandainya ada perbuatan kita yang melukai orang lain maka sudah selayaknya kita segera meminta maaf, dan sebaliknya kita cenderung akan marah bila merasa tersakiti, tetapi kalau orang tersebut meminta maaf akankah kita tetap mengeraskan hati untuk tidak menerimanya ?

Seseorang yang mau meminta maaf ataupun memaafkan berarti ia mempunyai hati yang terbuka, hati yang memasang telinga dan hati yang mau menerima.


Read More......