Tampilkan postingan dengan label Inspirasi dan Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi dan Motivasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, Januari 27, 2011

Harapan

harapan
Apakah Anda memiliki harapan ?
Saya sendiripun memiliki harapan dan dapat dipastikan hampir semua orang menjalani aktivitasnya dengan berbagai harapan. Sebuah harapan membuat manusia mampu menjalani rutinitas kehidupan dengan optimisme tinggi.

Seorang pekerja kontrak tentu berharap suatu saat kerja kerasnya akan membuahkan hasil dengan diangkat sebagai pekerja tetap, atau pelajar mengurangi waktu bermainnya dan mengisinya dengan tekun belajar tentunya dengan harapan agar kelak memperoleh masa depan yang baik.

Begitu juga hampir semua orang tua memiliki harapan yang sama terhadap anak-anaknya agar berhasil dalam hidupnya dan sebaliknya tidak satupun orang tua yang ingin anaknya gagal. Hal ini yang terkadang membuat para orang tua bekerja keras bahkan sampai mengorbankan waktu yang seharusnya dipergunakan untuk keluarga karena sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Inilah realita hidup sekarang ini, dimana dengan alasan tuntutan kebutuhan orang sampai melupakan keluarganya. Bukan hal yang aneh bila saat ini kita melihat banyak orang yang berhasil di dunia bisnis namun keluarganya berantakan. Mereka berhasil mencapai puncak kariernya akan tetapi apakah benar harapan mereka telah tercapai ?

Banyak orang yang mencapai keberhasilan namun tidak mengerti maksud keberhasilan mereka dan akhirnya mengalami kejatuhan dan selanjutnya hanya kekecewaan dan penyesalan yang mereka peroleh.

Bagaimana dengan kita ? apakah pencapaian tertinggi yang menjadi harapan kita ?

Read More......

Rabu, Januari 19, 2011

PUJIAN

Pujian
Hampir semua orang senang dengan PUJIAN, siapapun dia, apapun profesi dan jabatan yang disandangnya tentulah ingin dipuji dan bukan dihina terlebih dipermalukan didepan umum. Pujian bagaikan tangan yang mengelus ego seseorang dan membuatnya merasa penting. Pujian dapat membuat seseorang merasa lebih dihargai, menumbuhkan kepercayaan diri dan meningkatkan motivasi untuk berbuat yang lebih baik meski demikian Pujian juga dapat membuat orang menjadi “berbangga diri’, ‘besar kepala’ dan akhirnya menjadi sombong dan lupa diri. Kedewasaan dan kematangan seseorang salah satunya diukur dari kemampuannya menerima pujian yang diterima.

Hanya orang yang rendah hatilah yang dapat memberikan pujian, tahu menghargai orang lain dan berterima-kasih dengan tulus dan bukan memberikan pujian dengan pamrih, juga hanya orang yang rendah hati dan berjiwa besarlah yang memiliki kemampuan untuk mengucapkan syukur atas pujian yang diterimanya, betapapun sederhananya pujian itu.


Pertanyaan sekarang, bersediakah kita memberikan pujian yang tulus ? sudahkah kita menghargai dan menganggap penting keberadaan orang lain ? atau sudah siapkah diri kita untuk menerima pujian ?

Hanya kita sendiri yang dapat menjawabnya. Tetapi satu hal perlu yang disadari bahwa Pujian dapat memberikan kekuatan positif, memberikan motivasi dan membuat orang merasa dihargai namun Pujian juga merupakan untaian kata-kata yang dapat membuat kita terlena dan berpuas diri.

Read More......

Minggu, Oktober 10, 2010

Mengendalikan Rasa Marah

Mengendalikan Rasa Marah
“Kasihan ……..” itulah perasaan kita ketika merenungkan nasib Lilis, wanita setengah baya yang ditinggal mati suaminya. Lilis merasakan kepedihan dan kesepian karena kematian suaminya, ia kecewa dan sangat marah kepada teman-temannya dan menuduh bahwa mereka telah meninggalkannya saat ia butuh mereka bahkan Lilis beranggapan bahwa teman-temannya memiliki andil atas kematian suaminya.

Pernahkan Anda merasa kecewa dan marah kepada teman-teman karena merasa ditinggalkan ?

Banyak hal yang dapat membuat kita marah dalam menjalani rutinitas kehidupan terlebih pada kondisi saat ini dimana sifat individualistis begitu menonjol, lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri dan tidak peka terhadap perasaan dan kepentingan orang lain. Sebenarnya rasa marah adalah hal yang biasa, yang terpenting bukan bagaimana menghindari rasa marah melainkan bagaimana kita mengendalikannya. Marah yang terpendam dapat menimbulkan dendam sehingga mengganggu bahkan meracuni pikiran dan hati kita bahkan terkadang mengakibatkan sulit tidur dan pada gilirannya akan mempengaruhi kesehatan baik secara pisik maupun psikologis. Kita perlu mengendalikan rasa marah dan belajar untuk melupakan dan memaafkan kesalahan orang lain kepada kita.

Ketika menghadapi situasi yang menyebabkan kita merasa marah, ada baiknya untuk tahu caranya mengungkapkan kemarahan kita tanpa dengan ucapan bernada menyerang. Ada perbedaan yang mendasar bila kita marah dengan mengucapkan :
“Dasar Goblok” ! atau “Otak Udang” !
dan memberitahukan bahwa kita marah dengan mengucapkan :
“saya kecewa dengan hasil kerja anda” ataupun “saya menyesal telah mempercayai Anda”.

Bisanya kata-kata yang bernada kasar dan menyerang cenderung akan menimbulkan perlawanan, sedangkan jika sekedar menyampaikan perasaan marah, biasanya lebih dapat diterima.

Hampir semua orang pernah mengalami marah tetapi yang terpenting bukan menghindari rasa marah itu sendiri tetapi sewaktu marah kita harus mempunyai alasan yang benar, bukan semata-mata karena merasa harga diri terusik atau karena kelemahan manusiawi lainnya. Sehingga kita bisa mengendalikan rasa marah dan mengungkapkannya secara baik dan benar.

Read More......

Selasa, September 28, 2010

Jangan Pernah Menunda Untuk Membantu Orang Lain

Jangan Pernah Menunda Untuk Membantu
Kadang kita menyepelekan perkara-perkara kecil dan sering menunda-untuk melaksanakannya terlebih bila tidak menyangkut diri kita sendiri, penundaan apalagi berkaitan memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan akan merugikan banyak pihak. Keterlambatan satu hari pun akan berakibat fatal, seperti ilustrasi berikut.

Seorang wanita setengah baya bernama Lilis, berjalan gontai pulang kerumah dengan raut muka sedih, ia baru saja mendatangi teman-temannya bermaksud meminjam uang untuk keperluan berobat suaminya yang sakit parah. Semua teman yang dijumpai tidak dapat meminjamkan dengan berbagai sebab, Dini sahabatnya sewaktu SMA berkata, “wah sori ya Lis kalau saat ini aku masih ada keperluan untuk bayar arisan, mungkin minggu depan aku baru bisa bantu", lain lagi dengan Ericka sahabat karibnya sewaktu masih kuliah juga tidak dapat meminjamkan, maaf banget ya Lis, hari ini aku sudah janji dengan bu Endang untuk shopping, minggu depan aja ya saat gajian, aku akan bantu", bahkan Darwis mantan kekasihnya sewaktu kuliah pun tidak dapat membantunya dengan alasan uangnya dipergunakan untuk membayar cicilan motor.

Karena tidak mendapatkan perawatan sebagaimana mestinya, akhirnya suami Lilis meninggal dunia. Satu minggu kemudian Dini, Ericka dan Darwis datang berkunjung dan bermaksud memberikan pinjaman kepada Lilis, akan tetapi dengan wajah sedih Lilis menolaknya dan berkata “maaf teman-temanku, aku tidak dapat lagi menerimanya, sudah terlambat karena suamiku sudah meninggal 5 hari yang lalu”. Dini, Ericka dan Darwis merasa sedih dan sangat menyesal mengapa waktu itu mereka tidak segera membantu, padahal mereka mempunyai kesempatan untuk melakukannya.

Terkadang tanpa kita sadari ketika ada orang datang meminta bantuan, sering kali kita menunda-nunda untuk memberikan bantuan dengan berbagai alasan dan berpikir apakah orang tersebut layak untuk ditolong, bahkan lebih ekstrim lagi bila dalam menolong orang lain kita selalu mengukur untung-ruginya.


Kisah ilustrasi diatas mengajak kita untuk segera memberikan bantuan dan jangan pernah menunda untuk membantu orang lain, jangan sampai kita menyesal dikemudian hari karena sudah terlambat melakukannya, selagi ada kemampuan dan kesempatan berikanlah bantuan kepada orang yang membutuhkan.

Read More......

Sabtu, Agustus 28, 2010

Bagaimana Seharusnya Kita Memperlakukan Orang Miskin

bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang miskin
Mengapa banyak orang yang tidak tergerak hatinya melihat kemiskinan ? berapa banyak berita di koran atau TV yang menayangkan bayi-bayi atau anak anak kecil yang mati karena kekurangan gizi, orang-orang miskin yang rela antri berdesak-desakan sampai berjam-jam dan tidak jarang ada jatuh korban bahkan sampai meninggal, hanya untuk menerima pembagian uang atau sembako ? merasa bersalahkah kita atau tersentuhkah hati kita dengan semua kejadian itu …?

Siapakah yang harus bertanggung-jawab atas kemiskinan itu ?, mungkin banyak diantara kita yang akan menjawab bahwa Pemerintahlah yang seharusnya bertanggung jawab bukankah fakir miskin dan gelandangan dipelihara oleh Negara ?

UUD memang menyatakan bahwa gelandangan dan fakir miskin dipelihara oleh Negara namun mengapa “mereka” masih banyak dijumpai di jalanan terlebih menjelang hari raya Iedul fitri ?

Dalam kehidupan nyata sehari-hari tanpa disadari betapa kita sering curiga kepada orang miskin dan menganggap mereka sebagai orang tak berguna dan harus diwaspadai keberadaanya. Jika ada pengemis atau pengamen datang kerumah, kerap kali kita menolak mereka dengan berkata : "maaf lain kali saja atau tadi sudah ada yang datang, atau bahkan tidak sedikit yang langsung menutup pintu".

Semoga saja pada bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah ini kita dapat belajar untuk bersikap adil kepada mereka yang kurang beruntung secara materi dengan memperlakukan dan melihat mereka bukan lagi sebagai sumber masalah atau sampah masyarat. Kita belajar untuk “pergi keluar” dari lingkungan kita dan berinisiatif untuk menyapa orang-orang yang mungkin selama ini kita hindari dan dianggap sebagai sampah masyarakat.

Membantu orang miskin bukan sekedar memberi uang atau membagi-bagi makanan, kita bisa saja langsung memberikan uang ataupun makanan tanpa perduli sedikitpun kepada mereka hanya karena kita berkelebihan ! tetapi yang terutama adalah kita memperlakukan dan melihat mereka sebagai manusia dan pribadi yang layak mendapatkan perlakuan sebagaimana mestinya.

Read More......

Kamis, Juli 29, 2010

Meminta Maaf Dan Memaafkan Ternyata Sulit

meminta maaf dan memaafkan ternyata sulit, maaf, inspirasi, motivasi
Meminta maaf dan memaafkan ternyata sulit, tidak semudah mengucapkannya. Ada banyak orang yang masih bermasalah dengan kata maaf. Gengsi, jaga image, malu bahkan sampai ada yang merasa tidak perlu meminta maaf karena merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi.
Hidup dalam dunia yang kompleks dengan berbagai aktivitas dan kepentingan tentu saja menjadi pemandangan yang biasa bila timbul benturan atau perselihan.

Kemacetan lalu lintas, kesalah-pahaman, merasa diperlakukan tidak adil atau kekesalan lainnya dalam kehidupan sehari-sehari dapat menyebabkan orang menjadi gampang marah.

Sadar atau tidak, kerapkali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal yang baik dalam hidup ini, jalanan yang selalu lancar, karier yang mulus karena merasa telah bekerja keras, kesuksesan. Bahkan berharap agar para sahabat/teman memperlakukan kita sesuai dengan keinginan kita. Ketika yang diterima justru sebaliknya, maka timbul kekecewaan dan rasa marah karena merasa diperlakukan tidak adil.

Dalam realita kehidupan adalah hal yang wajar bila sesekali kita merasa marah atau menghadapi kemarahan orang lain, yang terpenting adalah bagaimana kita dapat mengontrol atau mengendalikan rasa marah tersebut agar tidak menimbulkan hal-hal yang akan disesali dikemudian hari. Seandainya ada perbuatan kita yang melukai orang lain maka sudah selayaknya kita segera meminta maaf, dan sebaliknya kita cenderung akan marah bila merasa tersakiti, tetapi kalau orang tersebut meminta maaf akankah kita tetap mengeraskan hati untuk tidak menerimanya ?

Seseorang yang mau meminta maaf ataupun memaafkan berarti ia mempunyai hati yang terbuka, hati yang memasang telinga dan hati yang mau menerima.


Read More......

Minggu, Juli 25, 2010

Mewarnai Keberadaan Diri Kita

Mewarnai Keberadaan Diri Kita
Pernahkah Anda merasa tertekan atau mengalami masa-masa sulit dalam kehidupan atau dalam pekerjaan anda ? Tidak jarang disaat kita membutuhkan seorang sahabat untuk berbagi, justru orang tersebut pergi menjauh, kita merasa ditinggalkan dan dikucilkan. Tidak salah bila peribahasa mengatakan : Ada gula ada semut, saat kita sukses setiap orang mendekati dan mengaku sebagai seorang sahabat, akan tetapi ketika kita jatuh kita ditinggalkan dan dikucilkan dalam ketidak-berdayaan.

Dalam realita kehidupan sehari-hari banyak diantara kita yang cenderung hanya tertarik untuk bersahabat ataupun menghormati orang-orang karena atribut yang melekat pada dirinya atau kepada orang yang kita anggap dapat memberikan keuntungan kepada kita. Tetapi sulit untuk menghormati terlebih bersahabat dengan orang-orang yang dirundung kesusahan dan ketidak-berdayaan

Bagaimana dengan kita … ? sudahkah kita mengulurkan tangan memberikan bantuan bagi orang yang membutuhkan pertolongan ? atau kita termasuk kelompok yang menjauh dan menghindar tatkala ada sahabat ataupun orang yang kita kenal sedang mengalami kesusahan ? dan memilih berpura-pura tidak tahu akan kesusahan orang lain sambil berdalih “sayapun punya masalah sendiri dan tidak ada waktu untuk memikirkan mereka”

Bukankah disekitar kita masih banyak orang-orang yang terkucilkan karena ketidak-berdayaan, kita masih sering berjumpa dengan para gelandangan, anak-anak terlantar dan masih banyak lagi, mari kita coba berhenti memikirkan kepentingan diri sendiri, luangkan waktu dan berikan dukungan, jangan menutup mata dan telinga terhadap keadaan orang orang disekitar kita.

Hidup akan lebih ber-WARNA dan BERARTI apabila kehadiran kita berarti bagi orang lain.

Read More......

Jumat, April 23, 2010

Lilin Untuk Gelandangan dan Pengemis

Warna Tulisan     Apa yang ada dalam pikiran Anda ketika melihat para Gepeng (gelandangan dan pengemis) yang banyak kita jumpai diperempatan jalan, lampu merah, terminal bis, stasiun KA, rumah makan bahkan sekarang sudah mulai masuk kerumah-rumah ?

Lilin Untuk Gelandangan Dan PengemisMasalah Gelandangan dan Pengemis memang merupakan masalah pelik diantara kita, sebagian dari kita akan dengan cepat mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang malas bekerja dan hanya mengharapkan belas kasihan orang, bahkan ada yang dengan sinis mengatakan bahwa kaum Gepeng ada yang mengkoordinirnya. Seorang teman saya berkata bahwa ia hanya akan memberikan uang kepada pengemis cacat atau pengemis yang sudah tua dan tidak akan memberikan uang kepada anak-anak karena katanya “kecil-kecil kok sudah mengemis, bagaimana nanti kalau sudah besar …!” atau ada juga seorang teman yang mengatakan bahwa ia tidak akan memberikan sedekah atau uang kepada pengemis muda, alasannya uang tersebut ternyata dibelikan rokok dan minuman yang memabukkan. Bahkan teman saya yang lain berkata bahwa ia tidak akan pernah memberikan uang kepada pengemis yang menggendong bayi …, apa sebabnya … ?, ternyata pernah suatu ketika, katanya, ia mendengarkan percakapan seorang ibu yang akan meminjam bayi dari ibu lainnya untuk diajak mengemis.

Meski demikian tidak sedikit juga diantara kita yang beranggapan bahwa mereka adalah korban dari kesulitan ekonomi, bukankah tidak ada satu pun manusia yang ingin dilahirkan menjadi orang miskin, yang hidupnya mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Hal tersebut yang mungkin dirasakan oleh para anak jalanan, gelandangan dan pengemis.
Kondisi kemiskinan yang berlangsung lama di daerah asal mereka dimana desa tempat mereka tinggal tidak lagi memberi lapangan pekerjaan dengan penghasilan yang memadai, lahan yang semakin menyempit, sementara jumlah penduduk desa terus bertambah, sehingga terjadilah migrasi ke kota dengan impian mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik. Ternyata di kota sama saja terlebih bagi mereka yang rata-rata tidak dibekali oleh pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Ini berakibat pada sulitnya mereka memperoleh pekerjaan, kemudian menganggur dan menjadi gelandangan pengemis.

Secara individu apakah yang dapat kita lakukan terhadap kemiskinan dan bagi orang-orang miskin (Gelandangan dan Pengemis) yang kerap kita temui dijalan-jalan … ? apakah kita hanya sekedar berharap bahwa itu semua semata-mata adalah urusan dan tanggung-jawab Pemerintah, bahwa fakir-miskin dan gelandangan dipelihara oleh Negara, sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 ! mengharapkan Pemerintah dalam kondisi seperti ini .... ? kelihatannya saat ini Pemerintah tengah disibukkan dengan berbagai macam urusan mulai dari Bank Century, Gayus, dan masih banyak lagi yang jelas mengindikasikan bahwa Pemerintah sendiri perlu melakukan ”pembersihan atau pembenahan” diri.

Lilin Untuk Gelandangan Dan PengemisJadi apa yang sebaiknya kita lakukan ??? masihkah kita berharap kepada Pemerintah ... ? atau apakah kita turut menghakimi bahwa mereka adalah orang-orang malas ? kalau saya, memilih lebih baik melakukan hal-hal yang sederhana, yaitu memberikan uang atau sedekah sekedarnya, bukankah lebih baik kita menyalakan lilin kehidupan daripada kita mengutuk kegelapan ... !!!

Read More......

Jumat, Maret 12, 2010

Mencintai dan Menikmati Pekerjaan

Mencintai dan Menikmati Pekerjaan
Work is love made visible.

And if you can not work with love but only with distaste, it is better that you should leave your work and sit at the gate of the temple and take alms of those who work with joy.

For if you bake bread with indifference, you bake a bitter bread that feeds but half man’s hunger. And if you grudge the crushing of the grapes, your grudge distills a poison in the wine.

And if you sing through as angels, and love not the singing, you muffle man’s ears to the voices of the day and the voices of the night. (Kahlil Gibran)

Apakah Kahlil Gibran berlebihan bila ia menyatakan adalah lebih baik bagi Anda untuk meninggalkan pekerjaan yang tidak Anda cintai dan duduk digerbang kuil dan mengambil sedekah dari mereka yang bekerja dengan sukacita ?

Bila kita tidak mencintai dan menikmati pekerjaan, kita akan cepat lelah dan merasa bahwa waktu berputar demikian lama sehingga rasa bosan dan jenuh akan mudah hinggap sehingga tidak membawa hasil maksimal. Berbeda jika kita mencintai dan menikmati pekerjaan, dimana segala sesuatunya dilakukan dengan hati sehingga tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat. Kuncinya adalah kata cinta, jika Anda mencintai pekerjaan Anda, tentulah Anda akan menjawab bahwa Kahlil Gibran tidak berlebihan.

Setiap pekerjaan, apapun jenisnya tentulah memiliki resiko, bagi orang yang tidak mencintai pekerjaannya resiko tersebut akan dianggap sebagai suatu beban yang memberatkan, berbeda bagi orang yang mencintai pekerjaannya, resiko adalah bagian dari pekerjaan itu sendiri dan dianggap sebagai suatu tantangan yang harus dihadapi dan merubah resiko tersebut menjadi suatu peluang.

Dengan mencintai dan menikmati pekerjaan, akan tercipta kondisi kerja yang menyenangkan, melahirkan kreativitas yang bermanfaat dan memberikan kontribusi maksimal bagi perusahaan tempat kita bekerja yang pada gilirannya memberikan dampak positif bagi kesuksesan individu.

Mencintai apa yang kita kerjakan dan mengerjakan apa yang kita cintai



Read More......